15 Apr 2010
RI berpeluang raih order garmen US$5 miliar
OLEH YUSUF WALUYO JATI
Bisnis Indonesia
JAKARTA Indonesia berpeluang besar meraih order dari sejumlah prinsipal garmen global di China hingga US$5 miliar sepanjang tahun ini, menyusul situasi makroekonomi China yang dinilai semakin tidak kondusif bagi sektor pertekstilan.
Pit. Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat Usman mengatakan para prinsipal garmen semakin tidak nyaman atas upaya otoritas moneter China menangani pergerakan reminbi. mata uang China untuk perdagangan luar negeri.
Upaya China menekan renminbi terhadap mata uang asing khususnya dolar AS, jelasnya, justru menimbulkan ketidakpastian bisnis di sektor riil. Tekanan renminbi untuk diperkuat, diperlemah atau dibiarkan mengambang membuat situasi bisnis antara investor AS dan China menjadi timpang," katanya saat peluncuran Bandung InterTEX 2010, kemarin.
Di sisi lain, papar Ade, biaya produksi di industri tekstil dan produk tekstil (TPT) khususnya garmen China menunjukkan peningkatan mulai 2009, terutama sejak upah minimum regional dan biaya listrik dinaikkan pemerintah. "Meski pabrik garmen China sangat produktif atau Iebih tinggi 160% dibandingkan dengan Indonesia, turnover [keluar masuk] buruh sangat tinggi. Iklim bisnis yang mulai tak kondusif membuat beberapa prinsipal garmen besar di China siap-siap merelokasi ordernya ke sejumlah negara di Asean," jelasnya.
Menurut Ade, sejumlah prinsipal garmen global yang akan merelokasi sebagian order tersebut, di antaranya Mark Spencer, Abercrombie Fitch, Asmarindo, Liz, Dewhirst, Hanesbrands, dan J.Crew, Selain itu, JC Penney, GAP, Jones Apparel, Levis, li Fung, Linmark, Liz Claibome, Nike, PIERS, Ralph Lauren, Target, Vanity Fair, dan Walmart.
Dia mengungkapkan potensi order garmen yang segera dialihkan para prinsipal garmen di China mencapai US$10 miliar. Nilai itu setara dengan 3,33% dari total ekspor garmen China ke Amerika Serikat sebesar USS300 miliar. "Dari nilai relokasi itu, industri garmen Indonesia optimistis bisa meraihsedikitnya 1,67% atau setara dengan USS5 miliar. Apalagi, industri TPT Asean sedang berkonsolidasi menyatukan visi perdagangan dan daya saing," jelasnya.
Susun program
Di Asean, kau Ade, produsen TPT asal Vietnam, Indonesia, Kamboja, Laos, dan Thailand, memiliki program dua agenda kerja dalam AFIex (Asean Federation on Textiles), yakniintegrasi pasar antar-Asean dan integrasi pasar di luar Asean.
Program tersebut, jelasnya, akan dijabarkan dalam SAFSA (Source Asean Full Service Alliance) dengan membentuk VVF (Vertical Virtual Factory). "Tujuannya adalah menyatukan perusahaan tekstil dan garmen yang seolah-olah terintegrasi. Dengan program ini, kami undang para buyer dengan berbagai fasilitas dan kemudahan bertransaksi. Saat ini sudah terdapat 40 perusahaan TPT Asean yang bergabung dan sudah 20 buyer [prinsipal] yang menjajaki order," terangnya.
Dia mengatakan sejumlah perusahaan garmen China juga mengincar Indonesia sebagai tempat relokasi pabrik. Saat ini, ungkapnya, CABC (China Asean Business Council) mulai melobi API terkait dengan persyaratan, insentif, dan kebutuhan lahan untuk relokasi itu.
Menurut Ade, investor China tersebut membutuhkan kepastian lahan sekitar 350 hektare guna mendirikan delapan atau sembilan perusahaan baru dengan total nilai investasi Rp900 miliar. Penyerapan tenaga kerja dari relokasi itu diperkirakan mencapai 135.000 orang.
"Mereka masih bertanya-tanya tentang status lahan apakah bisa digunakan dengan sistem sewa, dibeli, dan berapa lama bisa digunakan? Selain itu, mereka mempertanyakan ketersediaan listrik, akses jalan, telekomunikasi dan Internet, pengelolaan limbah. Jika lahan telah tersedia, semoga rencana relokasi ini positif," ujarnya.
Di tempat terpisah, Direktur Eksekutif Indotextiles, lembaga riset pertekstilan nasional, Redma Cita Wi-rawasta mengatakan kinerja ekspor TPT sepanjang kuartal 1/2010 diperkirakan meningkat 10% dibandingkan dengan periode yang sama 2010 dari sekitar USS2.24 miliar menjadi US$2,464 miliar.
"Kinerja ekspor terus membaik seiring dengan melemahnya ekses negatif dari krisis ekonomi global. Industri TPT menargetkan total nilai ekspor pada 2010 minimal diharapkan bisa menyamai 2008 sekitar US$10,8 miliar," katanya, (yusuf. waluyo@bisnis.co.td)

untuk yang mau coment coment disini aja ...
BalasHapusboy urag geuz komen...nrp sabaraha? nama lengkap saha?
BalasHapusriel nurg komen lah....kudu ngomen lmun bisa nu panag alusna urg hoooooh
BalasHapusnama saya dena prasetya
BalasHapusNRP ; 09.G40037
bagus juga article'x saya peduli dengan perkembangan dunia garmen .. karena saya kuliah di jurusan garmen...
NRP SAYA 08.G40066
BalasHapusRISYAN ALIM TPB 11
BAGI YANG INGIN COMENT DISINI JANGAN LUPA DISERTAKAN NAMA ; TPB ; DAN NRP
TERIMA KASIH
nais info riel !!!
BalasHapus09G40038
ibnu khaldun
nice
BalasHapusdodi permana arianto nrp o8.G40007
BalasHapussaya gx peduli masalah texti cman gara2 ada tugas jd we komen
YULIA YUNICHA ( 09.G40049 )TPB. 11
BalasHapustekstil akan selalu ada,, n gx pernah mati,, begitu juga diindosesia,,karena qta kan selalu menggunakan tekstil,, seperti,, pakaian kita,, n yg non sandang,,so hidup tekstil pokok na,,,,
bagus sekali
BalasHapussepertinya indonesia akan makin maju di tekstil dunia